Jumat, 24 Mei 2013

Regenerasi pada Hemidactylus frenatus (Cicak)

           Kemampuan regenerasi yang sangat jelas dapat dijumpai pada spons, coelenterata, cacing bahkan banyak diantaranya yang mampu membentuk organisme baru yang berasal dari fragmen-fragmen tubuhnya saja. Vertebrata, kemampuan meregenerasi struktur-struktur utama tubuh terbatas pada Urodella yang dapat mengganti anggota badan atau ekor yang hilang. Beberapa Icertulia yang dapat meregenerasi bagian ekor yang hilang seperti kecebong (Adnan, 2007).
           Regenerasi bila ditinjau lebih lanjut , ternyata terdiri dari berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan yang parah akibat hilangnya bagian tubuh utama, misalnya anggota bagian badan sampai pada penggantian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses biasa, yaitu rontoknya rambut. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai poliferasi dan deferensiasi lebih sel-sel lapisan marginal. Berupa berbagai penimbunan sel-sel yang nampak belum mengalami diferensiasi pada luka tersebut disebut blastama yang akan berpoliferasi dan secara prosesif membentuk bagian yang hilang. Blastama dapat berasal dari sel cadang khusus atau neoblast sel-sel intertisial yang bermigarsi ke tempat asal luka (Sugianto, 1996).
           Setiap spesies mempunyai susunan perilaku yang spesial dan adaptasi fisiologi untuk memperkecil atau mengganti kerusakan pada banyak akibat negatif. Salah satu langkah yang paling penting dari suksesnya
           Menurut Adnan (2007), bahwa regenerasi merupakan suatu peristiwa yang terjadi atas beberapa tahap yaitu :
  1. Penyembuhan luka.
  2. Penyembuhan jaringan.
  3. Pembentukan blastoma.
  4. Morfologi dan redeferensiasi.
          Menurut Yatim (1993), bahwa proses regenerasi sebagai berikut :
  1. Darah mengalir menutupi pernukaan luka lalu membentuk scap yang sifatnya melindungi.
  2. Epitel kulit menyebar di permukaan luka di bawah scab sel epitel bergerak secara nuboid. Butuh waktu dua hari agar kulit lengkap menutupi luka.
  3. Redeferensiasi sel-sel jaringan di sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent, untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru.
  4. Pembentukan blastoma, yakni kuncup regenerasi pada permukaan bekas luka, scab yang ada mungkin sudah lepas waktu itu.
  5. Rediferensiasi sel-sel deferensiasi, serentak dengan poliferasi sel-sel blastoma itu.
        Ekor cicak memiliki bentuk yang panjang dan lunak yang memungkinkan untuk bisa memendek dan menumpul. Ekor akan mengalami regenerasi bila ekor tersebut putus dalam usaha perlindungan diri dari predator. Regenerasi tersebut diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi. Autotomi adalah proses adaptasi yang khusus membantu hewan melepaskan diri dari serangan musuh. Autotomi merupakan perwujudan dari mutilasi diri. Cicak jika akan dimangsa oleh predatornya maka akan segera memutuskan ekornya untuk menyelamatkan diri. Ekor yang putus tersebut dapat tumbuh lagi tetapi tidak sama seperti semula (Strorer, 1981).
    Tahap pertama dari perbaikan kerusakan ekor cicak adalah sel epidermis dari bagian luka menyebar diseluruh luka dan sesegera mungkin menutupi permukaan luka.  Selama beberapa hari penutupan luka dari sel epidermis ini menjadi tudung epidermis apikal.  Sel-sel yang banyak terkumpul di bawah epidermis.  Semua jaringan di bawah tudung mengadakan dediferensiasi dan regenerasi membentuk sel kerucut yang disebut blastema regenerasi atau tunas regenerasi.  Blastema tersebut tumbuh dengan cepat, di mana pada saat pertama berbentuk kerucut, tetapi kemudian pada akhirnya menjadi flattened dorsoventral.  Kemudian setelah periode proliferasi, sel blastema mengadakan dediferensiasi dan memperbaiki ekornya.  Bagian yang terpotong inilah yang disuplai darah dan dapat beregenerasi (Kalthoff, 1996).
       Tungkai depan Salamander yang dibuang, proses perbaikan pertama ialah penyembuhan luka dengan cara menumbuhkan kulit di atas luka tersebut.  Suatu tunas sel-sel yang belum terdiferensiasi terlihat. Tunas ini mempunyai rupa yang mirip dengan tunas anggota tubuh pada embrio yang sedang berkembang.  Pembelahan yang cepat dari sel-sel  “embrio” yang belum khusus dari tunas anggota tubuh mungkin berasal dari dediferensiasi sel-sel khusus demikian, sebagai sel-sel otot atau sel-sel tulang rawan.  Dediferensiasi berarti bahwa sel-sel ini kehilangan struktur diferensiasinya sebelum berperan dalam tugas regenerasi.  Waktu berlalu, sel-sel dari anggota tubuh yang sedang regenerasi diatur dan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang, dan jaringan lainnya yang menjadikan kaki fungsional (Kimball, 1983).
         Menurut Balinsky (1983), regenerasi cicak terjadi pada ekor.  Regenerasi ini termasuk anatomi.  Mekanisme anatomi diselesaikan dengan melukai bagian distal ekor atau memberikan tekanan yang menyebabkan hewan tidak nyaman  sehingga ekor terputus di bagian distal.  Regenerasi kemudian akan dilakukan cicak untuk membentuk ekor yang baru meskipun terdapat perbedaan antara ekor yang baru dibentuk dengan ekor yang semula.  Pembentukan struktur kolumna vertebrae pada ekor hasil regenerasi disederhanakan sehingga berbeda dari ekor yang normal.
         Pangkal ekor cicak terdapat Nerve Growth Factor (NGF) atau faktor pertumbuhan sel-sel syaraf yang berfungsi sebagai titik tumbuh ekor cicak. Ekor yang dipotong pada bagian yang dekat NGF maka pertumbuhannya akan lebih cepat dibandingkan yang menjauhi NGF. Tidak setiap pemotongan yang dilakukan pada daerah NGF akan menghasilkan pertumbuhan kembali. Faktor lingkungan yang terlalu dingin dapat menjadi salah satu penyebab tidak tumbuhnya ekor (Anonim, 2009).
       Menurut Anonim (2006), regenerasi ekor tidak disokong oleh deretan ruas tulang ekor yang tersusun dari jaringan tulang seperti halnya ekor asli, melainkan disokong oleh bangunan berbentuk tabung memanjang ke arah ujung ekor dan tersusun dari tulang rawan. Ekor yang mengalami regenerasi juga mengalami regenerasi medulla spinalis (sumsum tulang belakang), walaupun regenerasinya tidak sempurna karena hanya tersusun dari sel ependima, serabut saraf, tanpa ada sel saraf. Sel ependima merupakan sel khusus yang melapisi saluran dalam sumsum tulang belakang. Adanya serabut saraf pada sumsum tulang belakang yang mengalami regenerasi, menimbulkan pertanyaan apakah serabut saraf tersebut berasal dari sel saraf yang terletak pada otak ataukah sel saraf yang terletak pada sumsum tulang belakang ekor.
       Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan pada cicak dengan memotong setengah bagian ekornya dengan menggunakan gunting, setelah diamati selama kurang lebih empat minggu, ternyata bagian ekor yang telah dipotong mengalami perpertumbuhan, pada minggu pertama panjang ekor cicak bertambah 34 mm. Ekor yang putus tersebut tumbuh tetapi tidak sama seperti semula. Pengamatan pada minggu kedua pasca amputasi mengalami pertambahan 37 mm. Pengamatan pada minggu ketiga pasca amputasi yaitu mati, hal ini disebabkan kurangnya perlakuan pada cicak. Perbandingannya sangat berbeda dengan data pribadi karena pada data pribadi lebih cepat tumbuh, namun perutmbuhannya tidak sempurna yaitu mati pada minggu ketiga.

          Menurut Sudarwati (1990), regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
  1. Temperatur, dimana peningkatan temperatur sampai titik tertentu maka akan meningkatkan regenerasi.
  2. Makanan, tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek makanan. Makanan yang cukup dapat membantu mempercepat proses regenerasi.
  3. System saraf, sel-sel yang membentuk regenerasi baru berasal dari sel sekitar luka . hal ini dapat dibuktikan dengan radisai seluruh bagian tubuh terkecuali bagian yang terpotong, maka terjadilah regenerasi dan faktor yang menentukan macam organ yang diregenerasi.
      Kecepatan regenerasi pada probandus dipengaruhi beberapa hal, seperti adaptasi terhadap lingkungan asing. Probandus yang teramati pada percobaan mengalami stress, mogok minum, dan selalu berusaha untuk meloloskan diri apabila tempat isolasi dibuka. Menurut Morgan (1982), regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan. Kenaikan dari temperatur, pada hal tertentu, mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi lebih cepat pada suhu 29,7 0C. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi dalam proses regenerasi.
        Terjadinya regenerasi perlu kehadiran urat saraf. Saraf anggota dipotong waktu larva, lalu kemudian anggota itu diamputasi, tak ada regenerasi berlangsung. Dedifferensiasi terus berlangsung, tapi sel-selnya diabsorpsi masuk tubuh, dan akhirnya proses regenerasi berhenti. Saraf saja dipotong tapi anggota tetap, anggota itu tidak akan berdegenerasi. Saraf dipotong dan anggota diamputasi, tunggulnya akan berdegenerasi (Yatim, 1993).
            Menurut Yatim (1993), serat saraf tepi, kalau putus dapat juga berdegenerasi, asal perikaryon (soma neuron) tidak ikut rusak. Urat saraf potong, bagian ujung yang lepas dari perkaryon akan berdegenerasi dan debrisnya diphagocytosis makrofag. Bagian pangkal yang berhubungan dengan perikaryon tetap bertahan, dan akan beregenerasi. Terjadi proses sebagai berikut :
  1. Chromatolysis, yakni melarutnya badan Nissl.
  2. Perikaryon membesar.
  3. Inti berpindah ke tepi.
  4. Bagian ujung axon yang dekt luka berdegenerasi sedikit, lalu tumbuh lagi.
      Ujung axon yang putus, setelah semua hancur dan dibersihkan makrofag, sel Schwann berproliferi membentuk batang sel-sel. Bagian proximal axon kemudian tumbuh dan bercabang-cabang mengikuti batang sel-sel Schwann ke bagian distal, sehingga mencapai alat effector (otot, kelenjar). Jarak antara proximal dengan distal yang putus jauh sekali dan batang sel-sel Schwann tak mencapai ujung bagian proximal itu, ujung proximal yang tumbuh tak sampai ke alat effector. Terbentuk gumpalan serabut saraf lepas di bawah kulit bekas luka atau amputasi, yang akan terasa nyeri sekali. Nampaklah, kehadiran batang sel-sel Schwann di bagian effector, perlu untuk mengarahkan atau jadi pedoman bagi axon untuk tumbuh. Neueron yang putus terlalu dekat ke perikaryon, tak ada reaksi sel-sel Schwann di bagian effector, dan perikaryon sendiri lama-lama akan mati. Neuroglia, termasuk sel Schwann, dapat beregenerasi dengan melakukan mitosis. Celah-celah bekas tempat neuron yang rusak dan hancur di saraf pusat (otak atau sumsum punggung), umpamanya karena penyakit atau rusak, akan diisi lagi oleh neuroglia, bukan oleh neuron baru.
      Praktikum regenerasi yang menggunakan cicak dan kecoa sebagai bahan praktikum, menghasilkan data pertumbuhan ekor cicak dan kaki kecoa yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena daya regenerasi yang dimiliki oleh setiap individu berbeda-beda. Ekor cicak dan kaki kecoa yang terpotong akan sedikit demi sedikit dan melalui tahapan-tahapan yang telah disebutkan.
Pemutusan ekor sebagai suatu siasat cicak sebagai strategi perlindungan terhadap predator yang bergantung pada lingkungan, diri sendiri, dan karakter-karakter spesifik yang mempengaruhi kapan dan bagaimana seringnya menggunakan strategi ini dan sukses. Komponen syaraf pada perlakuan ini mungkin responnya dapat direfleksikan.

DAFTAR REFERENSI

Adnan, Halifah pagarra, Asmawati, 2007. Penuntun Praktikum Reproduksi dan Embriologi. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Amanda, R Clause and Elizabeth A. Capaldi. 2006. Caudal aututomy and Regeneration in Lizards. Pennsylvania. Journal of Experimental Zoology 305A:965-973.
Anonim. 2006. Ekor Kadal Lebih Pucat dari Warna Aslinya. Dikutip dari http://www.google .com. Diakses pada tanggal 10 November 2009.
Anonim, 2007. Regenerasi. http://www.Biologi.co.id. Diakses tanggal 10 November 2009.
Anonim, 2009. Bagaimana proses ekor cecak yang putus tumbuh kembali?. Dikutip dari http://www.Yahoo!ANSWERS. Diakses tanggal 11 November 2009.
Balinsky, B. I. 1983. An Introduction to Embriology. W. B. Saunders Company, Philadelpia
Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc, New York
Kimball, J.W. 1983. Biologi Edisi ke- 5 jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Morgan, W. 1982. Comparative Anatomy. John Willey and Sons Inc., New York.
Storer and Usinger. 1981. Elements of Zoology. Mc. Graw Hill Book Company Inc., New York.
Sudarwati, 1990. Struktur Hewan. Bandung : Jurusan Biologi FMIPA ITB.
Sugianto, 1996. Perkembangan Hewan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Tarsito.

Kamis, 23 Mei 2013

Cicak (Hemidactylus frenatus)


Cicak  (Hemidactylus frenatus)


Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Class                : Reptilia
Order               : Squamata
Family             : Gekkonidae
Genus              : Hemidactylus
Species            : Hemidactylus frenatus (Schneider, 1792)
Tujuan 
Untuk mengetahui mengapa daging cecak bisa sebagai obat penyakit kulit pada binatang peliharaan yakni penyakit kurap pada anjing.
Defenisi
Cecak atau cicak atau dalam bahasa latin lebih dikenal dengan sebutan Hemidactylus frenatus merupakan hewan reptil yang biasa merayap di dinding atau pohon. Mereka memanjat tembok rumah untuk mencari serangga dan tertarik pada cahaya lampu. Cecak berwarna abu-abu, tetapi ada pula yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan ada cecak yang berbintik-bintik hitam. Cecak biasanya berukuran sekitar 10 cm. Cecak sama dengan tokek dan sebangsanya tergolong ke dalam suku Gekkonidae.
Jenis cecak
Cecak ada banyak jenisnya. Di lingkungan rumah kita saja ada sekitar tiga jenis (spesies) yang sering ditemui. Yakni:
1.      Cecak tembok (Cosymbotus platyurus), yang kerap ditemui di tembok-tembok rumah dan sela-sela atap. Cecak ini bertubuh pipih lebar, berekor lebar dengan jumbai-jumbai halus di tepinya. Bila diamati di tangan, dari sisi bawah akan terlihat adanya lipatan kulit agak lebar di sisi perut dan di belakang kaki.
2.      Cecak kayu (Hemidactylus frenatus), yang bertubuh lebih kurus. Ekornya bulat, dengan enam deret tonjolan kulit serupa duri, yang memanjang dari pangkal ke ujung ekor. Cecak kayu lebih menyukai tinggal di pohon-pohon di halaman rumah, atau di bagian rumah yang berkayu seperti di atap. Terkadang didapati bersama cecak tembok di dinding luar rumah dekat lampu, namun umumnya kalah bersaing dalam memperoleh makanan.
3.      Cecak gula (Gehyra mutilata), bertubuh lebih kecil, dengan kepala membulat dan warna kulit transparan serupa daging. Cecak ini kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan, mencari butir-butir nasi atau gula yang menjadi kesukaannya. Sering pula ditemukan tenggelam di gelas kopi kita. ( Wikipedia bahasa Indonesia)
Kandungan daging cecak
Dalam tubuh cecak terdapat enzim yang unik. Cecak mampu melakukan reproduksi bagian tubuhnya sendiri, misalnya menumbuhkan ekornya yang putus. Enzim khas itu akan terangsang keluar saat si cecak meronta-ronta disiksa atau ketika dipotong. Khasiat cecak sebagai obat, menurut seorang ahli pengobatan Cina Hembing Wijayakusuma, sebenarnya sudah dikenal di Cina sejak beberapa puluh tahun lalu. Semula cecak untuk pengobatan TBC. Berdasarkan laporan Medical Chinese Report tahun 1965. TBC yang merupakan penyakit peyebab virus dapat di sembuhkan oleh enzim ini maka untuk jamur akan lebih mudah dissembuhkan. ( majalah tempo )
Top of Form
Bottom of Form
Pembahasan
Jamur Dermatophytes termasuk kedalam kerajaan fungi sebagai makhluk hidup eukariotik maka enzim yang terkandung di dalam tubuh cecak dapat melawan sel eukariotik pada jamur dermatophyte, jamur ini dapat meneyerang manusia dan hewan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis terhadap seekor anjing yang terinfeksi jamur dermatophytes atau yang sering disebut sebagai penyakit kurap selama jangka waktu 8 hari penulis telah memberikan cecak sebanyak tiga ekor setiap harinya, dengan jumlah dua puluh empat ekor cecak maka didapatkan hasil yang diharapkan yakni adanya angsuran pada bagian tubuh anjing yang terinfeksi jamur dermatophytes. Dimana sebelumnya pada bagian tubuh anjing yang terserang jamur tersebut terdapat kulit yang meradang, menyebabkan gatal-gatal dan seperti terbakar parah, adanya luka yang merah dan bersisik. Maka setalah penulis memberikan cecak tersebut kepada anjing membuahkan hasil, yakni luka yang memerah sudah mulai sembuh dan sisik pada bagian kulitnya sudah terlepas. Hanya tinggal menunggu waktu penumbuhan bulu anjing yang rontok akibat jamur dan tidak terlihat lagi anjing menggaruk lukanya tersebut.
Cecak dapat memutuskan ekornya sendiri jika dalam keadaan terdesak untuk menipu makhluk hidup yang ingin memangsanya. Namun ekornya dapat tumbuh kembali karena cecak memiliki enzim yang digunakan untuk menumbuhkan kembali ekornya yang terputus. Enzim ini akan keluar apabila cecak tersebut di sakiti, misalnya ketika ekornya putus maka enzim itu akan keluar dan memperbaiki sel-sel ekornya dan ekor cecak dapat tumbuh kembali. Cecak pernah digunakan di China pada tahun 1965 sebagai obat penyakit TBC. Penyakit TBC disebabkan oleh virus tubercolosis. Virus adalah parasit obligat yang menginfeksi sel makhluk hidup. Virus yang terbungkus oleh membran menginfeksi sel-sel eukariotik menyatu dengan plasma inang melepaskan inti nukleoproteinnya ke dalam sel eukariotik. Maka nukleoprotein virus menggantikan peran sel eukariotik sehingga virus yang menguasai sel tersebut dinetralisir oleh enzim yang terdapat pada daging cecak, enzim itu memperbaiki sel eukariotik dan fungsinya melawan virus sehingga sel eukariotik kembali mengambil perannya sendiri.
Penyakit kurap yang di sebabkan oleh jamur Dermatophytes menyebabkan bulu pada anjing rontok, kulit yang meradang, menyebabkan gatal-gatal dan seperti terbakar parah, adanya luka yang merah dan bersisik. Anjing terlihat sering menggarut luka akibat jamur Dermatophytes yang menyerangnya. Jamur dermatophytes termasuk dalam kerajaan fungi, fungi merupakan makhluk hidup eukariotik maka enzim yang terkandung di dalam tubuh cecak dapat melawan sel eukariotik pada jamur dermatophytes.
Pemberian cecak kepada anjing termasuk susah karena penciuman hewan ini sangat tajam, dan cecak bukanlah makanan anjing, walaupun anjing hewan pemakan daging. Maka disini penulis mencari cara lain agar anjing tersebut mau memakan cecak tersebut yakninya di bakar dan dicampurkan ke dalam makanannya. Jenis cecak yang tidak memiliki bintik-bintik hitam dan tubuh yang transparan ini di tangkap, karena cecak banyak keluar malam hari untuk mencari makan maka cecak di tangkap pada malam hari sebanyak tiga ekor perhari. Siangnya cecak dibakar di sabut kelapa setelah matang cecak tersebut dicampurkan kedalam makanan anjing sehingga anjing tersebut memakan cecak itu.
Dalam jangka waktu 8 hari telah diberikan dua puluh empat ekor cecak, tiga ekor setiap harinya. Seharusnya cecak diberikan kepada makhluk hidup yang terinfeksi jamur dermatophytes mentah-mentah karena enzim tadi masih akan lebih banyak aktif dalam tubuh cecak.
Kesimpulan
Ternyata dalam daging cecak terdapat enzim yang sangat berguna baik bagi tubuh cecak sendiri maupun untuk mahkluk hidup lainnya, pada cecak enzim itu di gunakan untuk menumbuhkan kembali ekornya yang putus. Enzim ini dapat memperbaiki kerusakan pada sel-sel anjing (sel eukariotik ) yang di sebabkan oleh infeksi jamur dermatophytes. Jamur yang tinggal di dalam sel anjing yang di infeksinya akan di serang ( fagosit ) oleh sel darah putih anjing .

Jumat, 19 April 2013

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)


JAWABAN UJIAN TENGAH SEMESTER
MATA KULIAH  EKOLOGI HEWAN



Mata Kuliah
Ekologi Hewan

Dosen Pembina
Husamah, S.Pd
Program Studi
Pendidikan Biologi
Nama Mahasiswa NIM / Kelas
Ahmad Najmul Abidin
201110070311036 / IV A









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
APRIL 2013







SOAL TAKE HOME


1.    Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan  poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.

Jawaban
Menurut saya konsep waktu suhu itu keduanya sangat berhubungan sekali. Suhu merupakan sebuah indikator yang berpengaruh penting dalam faktor abiotik dan biotik yang dapat dipengaruhi juga dengan penyinaran sinar matahari. Suhu tubuh merupakan keseimbangan antara perolehan panas dari dalam (metabolisme) atau luar dengan kehilangan panas. Untuk menghadapi cuaca yang sangat buruk (terlalu dingin atau terlalu panas) hewan perlu menghemat energi dengan cara hibernasi atau estivasi. Jika dikaitkan dengan organisme terutama pada hewan Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Jadi Suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan rusaknya enzim dan protein lain, dapat menguapkan cairan tubuh, dapat merusak vitamin, dapat merusak sel, jaringan dan organ, dapat merusak permeabilitas membran, dan merusak hormon. Sebaliknya, suhu yang terlalu rendah dapat membekukan protoplasma, dapat menghambat kerja enzim, menghambat kerja hormon, dan menghambat metabolisme. Maka dari itu saya dapat mengambil satu contoh hewan poikiloterm yakni belalang. Suhu ambang terjadi perkembangan sejenis belalang adalah 160C lama waktu yang diperlukan untuk perkembangan telur hingga menetas 17,5 hari, maka jika pada suhu 300C maka lama waktu untuk menetas hanya 5 hari.
Pada kasus ulat bulu didaerah probolinggo yang menyerang tanaman mangga, suhu yang berada daerah tersebut memungkin kan hewan tersebut mampu hidup dan beradaptasi. Karena suhu ambang pada hewan ulat bulu itu sama dengan belalang, maka dari itu ulat bulu tersebut mampu hidup dan menyerang tanaman tersebut. Tetapi pada dasarnya para petani sulit untuk melenyapkan ulat bulu tersebut meskipun sudah dilakukan tindakan, seperti menyemprot hama dengan menggunakan peptisida. Karena jumlah populasi hewan tersebut sangat banyak maka sulit sekali untuk di berantas hama tersebut. Hal ini juga dapat disebabkan hilangnya predator seperti burung, kelelawar dan sebagainya yang biasanya dapat membantu para petani untuk memberantas ulat bulu tersebut. Jadi jika waktu dan suhu itu berada pada suhu ambang, maka bisa terjadi populasi ulat bulu tersebut meledak, karena ulat bulu mampu memperbanyak keturunannya pada suhu yang memungkinkan.

Literatur pendukung ini untuk memperkuat jawaban saya.
Aplikasi konsep waktu-suhu lebih pada pengendalian hama secara mekanis dan fisik. Kehadiran dari hama dilahan pertanian seperti kelembaban dan suhu juga ikut mempengaruhi hadirnya suatu hama diareal pertanian tersebut. Seperti yang telah diketahui bahwa setiap hama yang termasuk dalam hewan poikiloterm memiliki laju perkembangan yang sejalan dengan suhu lingkungan, apabila suhu lingkungan sesuai dengan suhu tubuhnya untuk berkembangbiak maka hama dari hewan poikiloterm akan terus melakukan perkembangabiakan. Contoh aplikasi konsep waktu-suhu dalam penegndalian hama pada serangga adalah salah satu hewan poikiloterm. Dapat diketahui serangga yang memiliki suhu untuk hidup 160C yaitu Myzus persicae Sulz akan diperlukan dengan teknik pengendalian hama secara mekanis dan fisik, dimana akan diubah lingkungannya dengan suhu diatas ambang hewan tersebut. Populasi pertumbuhan Myzus persicae Sulz dalam waktu 15 hari tampak meningkat dengan cepat pada kisaran suhu 15,40C – 33,70C, pertumbuhan populasi menjadi tertekan lebih rendah. Selanjutnya jika berada pada batas luar ambang yakni kisaran suhu tinggi 14,30C – 31,70C dengan rata-rata 300C pertumbuhan dengan populasi menjadi sangat tertekan (Suniarhti, 2005).

Suniarhti, Nenet, dkk. 2005. (online) http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads ilmu_hama_tumbuhan.pdf. Diakses 18 April 2013

2.     Jelaskan pemanfaatan konsep kelimpahan, intensitas dan prevalensi, disperse, fekunditas, dan kelulushidupan dalam kaitannya dengan penetapan hewan langka!

Jawaban
Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu satwa langka kebanggaan yang hanya hidup di Pulau Sumatera. Jenis satwa yang menempati puncak piramida dalam ekosistem hutan Sumatera ini keberadaannya telah dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan dikatagorikan oleh IUCN (lembaga konservasi internasional) sebagai satwa yang mendekati kepunahan. Sementara itu CITES (konvensi tentang perdagangan satwa dan tumbuhan terancam punah) telah melarang perdagangan dan perburuan satwa ini (Anonymous, 2013).

Anonymous, 2013.(online) http://www.dephut.go.id/files/tiger_ap_07_0.pdf. Diakses 18 April 2013
Saat ini populasi atau kelimpahan harimau sumatera di alam diperkirakan hanya tinggal sekitar 300 individu yang tersebar di beberapa kawasan hutan yang terfragmentasi karena berbagai sebab terutama penebangan dan konversi hutan. Selain itu Populasi Harimau Sumatera di alam kian menurun diakibatkan kondisi habitat yang terus terganggu. Hutan primer dan sekunder merupakan habitat harimau, keberadaan kedua jenis hutan tersebut sulit ditemukan saat ini. Data terakhir jumlah populasi Harimau Sumatera di alam berkisar antara 400 sampai dengan 500 ekor saja yang habitatnya mulai dari Aceh sampai dengan Lampung. Oleh sebab itu hewan ini termasuk hewan langka yang ada di Indonesia khususnya di pulau sumatera.
Salah satu pendekatan konservasi dalam penanganan harimau supaya tidak punah adalah membangun areal rehabilitasi harimau sumatera di habitat alam yang dikelola secara insentif sehingga satwa tersebut dapat berkembang biak secara semi alamiah. Sistem pengelolaan ini disebut dengan “Sumatran Tiger Centre” atau Pusat Perlindungan Harimau penyebab konflik. Tiger Centre ini bermanfaat sebagai koridor buatan yang menghubungkan populasi-populasi yang terfragmentasi sehingga terjadi komunikasi diantara populasi, juga sebagai tempat untuk merehabilitasi harimau penyebab konflik dengan manusia.
Dispersi (Dispersion) merupakan pola penjarakan antar individu dalam perbatasan populasi. Pola dispersi meliputi menggerombol yaitu individu-individu hidup mengelompok dalam topok, seragam atau uniform berjarak sama diakibatkan dari interaksi langsung antara individu-individu dalam populasi, acak (random) yaitu penjarakan yang tidak bisa diprediksi, posisi setiap individu tidak bergantung pada individu lain.
Kelimpahan populasi suatu spesies mengandung dua aspek yang berbeda, yaitu aspek intensitas dan aspek prevalensi. Intensitas menunjukkan aspek tinggi rendahnya kerapatan populasi dalam area yang dihuni spesies. Prevalensi menunjukkan jumlah dan ukuran area-area yang ditempati spesies dalam konteks daerah yang lebih luas (masalah sebaran).
Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (prevalen) dapat lebih sering dijumpai. Spesies yang prevalensinya rendah, yang daerah penyebarannya terbatas (terlokalisasi) hanya ditemui di tempat tertentu.
Spesies hewan dapat dimasukkan dalam salah satu dari empat kategori berikut:
prevalensi tinggi (prevalen) dan intensitasnya tinggi
prevalensi tinggi (prevalen) tetapi intensitasnya rendah
prevalensi rendah (terlokalisasi) tetapi intensitasnya tinggi
prevalensi rendah (terlokalisasi) dan intensitasnya rendah.
Harimau sumatera bersifat endemik dan merupakan spesies langka yang terancam kepunahan. Jadi bisa dikatakan hewan ini prevalensinya tinggi. Kategorisasi status spesies dengan memperhitungkan dua aspek tersebut sangat penting terutama dalam menentukan urutan prioritas perhatian dan untuk melakukan upaya-upaya kelestarian spesies hewan langka yang terancam punah.
Spesies yang terlokalisasi dan intensitasnya rendah dikategorikan sebagai spesies langka, pernyataan ini masuk dalam kategori pada harimau sumatera Adakalanya spesies yang intensitasnya tinggi namun prevalensinya rendah pun dimasukkan dalam kategori tersebut.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab langkanya suatu spesies sangat banyak. Namun, faktor-faktor tersebut mengkin saja tidak sama antara spesies di suatu tempat tertentu dengan spesies di tempat lain. Kelangkaan suatu spesies dapat diakibatkan oleh satu atau beberapa penyebab berikut: Area yang dihuni spesies menjadi sempit atau jarang. Suatu habitat yang kondisi lingkungannya khas biasanya dihuni oleh spesies yang telah teradaptasi secara khusus untuk lingkungan tersebut. Berubahnya kondisi lingkungan dapat mengakibatkan kepunahan lokal dari spesies tersebut.

Anonymous, 2011. (online) http://nenkiuedubio.blogspot.com/2011/05/populasi-hewan.html. Diakses 18 April 2013

Fekunditas secara umum berarti kemampuan untuk bereproduksi. Dalam biologi, fekunditas adalah laju reproduksi aktual suatu organisme atau populasi yang diukur berdasarkan jumlah gamet, biji, ataupun propagula aseksual. Dalam bidang demografi, fekunditas adalah kapasitas reproduksi potensial suatu individu ataupun populasi. Fekunditas berada di bawah kontrol genetik maupun lingkungan dan merupakan ukuran utama kebugaran biologi suatu spesies.

Anonymous, 2012. (online) http://id.wikipedia.org/wiki/Fekunditas. diakses 18 April 2013
Mamalia biasanya memiliki musim kawin atau waktu tertentu untuk bereproduksi. Musim kawin dapat dipengaruhi oleh lingkungan, makanan, curah hujan dan suhu (Bronson, 1998). Musim kawin dapat berpengaruh terhadap fekunditas dan litter size pada seekor hewan. Fekunditas adalah kemungkinan kelahiran hidup dalam satu siklus, sedangkan litter size adalah jumlah anakan yang lahir dalam sekali kelahiran. Melihat pentingnya mengetahui musim kawin terutama bagi penangkaran, maka dilakukan kajian untuk mengetahui musim kawin harimau Sumatera yang ada di Lembaga Konservasi Indonesia.
Kelulus hidupan pada harimau sumatera sangat bisa terjadi, asalkan pelestarian pada spesies ini sangat diperluas. Konservasi pada hewan ini sangat mendukung untuk kelangsungan hidup pada hewan langka, karena dengan melakukan perluasan habitat harimau sumatera yang berada diluar kawasan konservasi kelulus hidupan spesies ini akan semakin banyak dan laus. Selian itu kita juga perlu memonitoring hewan ini dalam jangka yang panjang.

3.  Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!

Jawaban
Interaksi populasi secara parasitisme merupakan interaksi pada organisme atau individu yang merugikan, sebab interaksi ini terjadi contoh pada hewan cacing parasit. Cacing parasit pada umumnya mendapatkan keuntungan dari hospesnya sedangkan hospes tersbut merasa dirugikan. Taenia saginata merupakan cacing yang berada pada usus sapi bahkan manusia. Sebab pada akhirnya cacing ini mampu menyambung hidupnya dengan inang perantaranya seperti bekicot, tumbuhan air. sudah jelas bahwa disini terjadi interaksi pada cacing tersebut untuk berlangsung hidupnya dengan merusak bagian tubuh hospes perantaranya. Tetapi keseimbangan antara hospes dan parasit akan terganggu jika hospes tersebut menghasilkan antibody atau bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan parasit terganggu jika hospes tersebut menghasilkan antibody atau bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan parasit Jadi intinya interaksi yang sangat merugikan karena populasi pada cacing ini lama kelamaan akan banyak sesuai dengan daur hidupnya. Pengendalian dengan cara perwatan dan memberikan sistem imun terhadap sapi yang terkena cacing parasit tersebut. Supaya tetap terjaga kesehatanya dan tidak mudah terinfeksi walaupun didalamnya terdapat spesies cacing tersebut.
Tidak jauh dengan interaksi parasitisme, interaksi pupulasi secara parasitoidisme merupakan sekelompok insect yang dikelompokkan dengan dasar perilaku bertelur betina dewasa dan pola perkembangan larva selanjutnya. Pada awalnya hanya sedikit kerusakan yang tampak ditimbulkan terhadap inangnya, tetapi akhirnya hampir dapat mengkonsumsi seluruh inangnya dan dengan demikian makan dapat membunuh inang tersebut sebelum atau sesudah stadium kepompong (pupa). Jadi pada dasarnya interaksi ini tidak hanya mematikan inangya tetapi ada keterkaitan kedekatan antara individu tersebut dengan inangnya. Tetapi hal yang lain juga bisa terjadi karena jika pada akhirnya populasi itu meningkat maka kerugian bisa terjadi.


4.     Nilai sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!

Jawaban
Nilai sikap itu sendiri merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai. Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk sosial dan secara perlahan diinternalisasikan oleh individu serta diterima sebagai milik bersama dengan kelompoknya.
Jadi nilai sikap dan karakter yang harus ditumbuhkan adalah mengaplikasikan konsep ekologi hewan dalam suatu kehidupan dengan cara mempelajari bagaimana suatu masalah tersebut dapat diselesaikan dengan konsep atau cara dalam sudut pandang ekologi, selain itu rasa ingin tahu dan kerja keras sangat berpengaruh dalam memecahkan suatu masalah. Sebagai contoh yakni kita dapat mengaplikasikannya melalui metode pembelajaran praktikum. Metode pembelajaran ini membuat siswa akan lebih aktif dalam belajar yang berkaitan dengan konsep ekologi hewan.
Dalam arti lain pembelajaran ini sangat identik dengan kontruktivisme. Dengan adanya suatu masalah atau kasus yang tidak bisa dipecahkan dalam belajar ekologi hewan, disini siswa diharapkan berfikir lebih kreatif dalam mencermati sebuah persoalan tersebut. Ketika sudah paham dengan masalah itu maka siswa ini mampu mengetahui cara untuk menyelesaikannya.
Selain itu kita dapat mengetahui populasi serangga yang berada di kampus kita sendiri yaitu di Arboretum. Metode yang dipakai adalah fall trap, dengan metode ini siswa akan banyak tahu tentang keanekaragaman jenis serangga dan jumlah populasi yang ada. Dengan adanya pengalaman yang kita dapatkan maka sangat pentinglah diterapkan sesuai dengan materi yang kita ajarkan dengan siswa sesuai dengan tujuannya juga.

5.    Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!

Jawaban
Jenis monitoringnya yaitu mengindikasikan adanya polutan di lingkungan baik kuantitas maupun kualitasnya. Jenis Monitoring bersifat sensitif dan rentan terhadap berbagai polutan, sehingga sangat cocok untuk menunjukan kondisi yang akut dan kronis.
Ciri dari Harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala hingga ke ekor dengan berat 300 pound. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci dan berat 200 pound. Belang harimau sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.
Jenis hewan harimau sumatera ini adalah hewan yang tergolong dalam filum kordata (mempunyai saraf tulang belakang), sub-filum vertebrata (bertulang belakang), kelas mamalia (berdarah panas, berbulu dengan kelenjar susu), pemakan daging (karnivora), keluarga felidae (kucing), genus panthera, dan tergolong dalam spesies tigris. Harimau Sumatera, seperti halnya dengan jenis-jenis harimau lainnya, adalah jenis satwa yang mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya di alam bebas.
Prinsip dan praktek pemanfaatannya yaitu mengaju pada pemberian nama serta takson pada hewan tersebut kemudian mengenal jenis spesies yang lainnya yang termasuk family hewan tersebut. Jadi dengan mengetahui mulai dari cirri, jenis, bahkan prinsip dan praktiknya, maka pemafaatan indikator monitoring dalam lingkungan sangatlah mudah, kita dapat memonitoring populasi harimau dan habitatnya Jangka panjang dengan program konservasi harimau sumatera melaksanakan pemotretan dengan menggunakan Camera Infra merah. Camera Inframerah dipasang ditempat-tempat lintasan harimau yang beroperasi selama 24 jam dalam jangka waktu tertentu. Secara otomatis camera akan memotret dan mencatat waktu setiap individu yang melewati lensa camera. Dengan demikian camera tidak saja akan memotret satwa harimau tetapi juga dan satwa mangsa harimau. Dengan menggunakan camera inframerah dalam jumlah yang cukup dan waktu yang lama, akan diperoleh data populasi dan penyebaran harimau sumatera dengan akurasi yang tinggi.

6.       Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya. (dalam satu kelas, hewan yang dikaji tidak boleh sama)!

Jawaban
Habitat, yaitu tempat dimana suatu makhluk hidup biasa diketemukan. Semua makhluk hidup mempunyai tempat hidup yang biasa disebut habitat. Untuk menemukan suatu organisme tertentu, perlu diketahui dulu tempat hidupnya (habitat), sehingga ke habitat itulah pergi mencari atau berjumpa dengan organisme tersebut. Semua organisme atau makhluk hidup mempunyai habitat atau tempat hidup. Contohnya pada harimau sumatera.
Harimau Sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau Sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

Aktivitas konservasinya hingga sekarang diperkirakan hanya tersisa 400-500 ekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang masih bertahan di alam bebas. Selain itu terdapat sedikitnya 250 ekor Harimau Sumatera yang dipelihara di berbagai kebun binatang di seluruh penjuru dunia. Pengrusakan habitat adalah ancaman terbesar terhadap populasi harimau sumatera saat ini.
Pembalakan hutan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara tahun 1998 hingga 2000. Dalam upaya penyelamatan harimau Sumatera dari kepunahan, Taman Safari Indonesia ditunjuk oleh 20 kebun binatang di dunia sebagai Pusat Penangkaran Harimau Sumatera, studbook keeper dan tempat penyimpanan sperma (Genome Rescue Bank) untuk harimau Sumatera.
Upaya konservasi yang dilaksanakan oleh Program Konservasi Harimau sumatera di antaranya adalah:
  1. Melakukan studi bioekologi harimau sumatera.
  2. Melakukan perluasan habitat harimau sumatera yang berada diluar kawasan konservasi sebagai kawasan yang dilindungi untuk konservasi harimau sumatera.
  3. Meningkatkan kegiatan perlindungan harimau sumatera dan habitatnya.
  4. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi alam dan meningkatkan kwalitas penegakan hukum dibidang ”Wildlife Crime”
  5. Meningkatkan kwalitas penanganan konflik antara harimau dengan masyarakat yang dapat menjamin kelesatrian harimau sumatera.
  6. Monitoring populasi harimau sumatera dihabitat alaminya dalam jangka panjang.
  7. Meningkatan kwalitas sumber daya manusia dan kerjasama pengelolaan antara seluruh institusi yang berkepentingan terhadap kelestarian harimau sumatera.
  8. Mengembangan Strategi Konservasi Harimau Sumatera di Masa Depan